PRILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA


KONFORMITAS KELOMPOK DAN PRILAKUN SEKS BEBAS PASA REMAJA

Masalah seksual mungkin sama panjangnya dengan perjalanan hidup manusia, karena kehidupan manusia sendiri tidak terlepas dari masalah ini. Meskipun demikian masalah seksual seakan-akan tidak pernah habis dan tuntas dibahas orang dari masa ke masa. Seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan zaman yang semakin cepat, kini siapapun termasuk para remaja Chynthia, Konformitas Kelompok … 75 tersebut bisa dengan mudah memperoleh tontonan seksual yang selama ini dilarang atau ditabukan untuk dibahas secara transparan, dan yang tadinya hanya dijelaskan dari mulut ke mulut secara bisikbisik.
 Faktor-faktor negatif seperti merebaknya informasi bertema pornografi di media masa, kurangnya penanaman moral agama dan adanya pengaruh pergaulan bebas, masuknya film dan VCD biru dari luar negeri ataupun dalam negeri yang bisa dengan mudah diperoleh di manamana. Bagi remaja yang selama ini terkungkung pengetahuannya, dan yang pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya, ini adalah saat yang tepat untuk memuaskan rasa ingin tahu remaja tersebut dan beberapa penyebab remaja melakukan hubungan seks (Pangkahila, 2000).
Pada sisi lain para remaja tidak menerima pendidikan seks yang benar dan bertanggung jawab. Bahkan informasi ilmiah tentang sekspun seolah-olah tertutup untuk remaja dengan berbagai alasan yang tidak benar. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila pornografi diterima begitu saja oleh remaja sebagai pengganti informasi ilmiah yang sulit untuk diperoleh, sehingga salah satu akibatnya adalah makin banyaknya kasuskasus hubungan seks bebas di masyarakat.
Seks bebas (free sex) sendiri merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, dimana kebebasan tersebut menjadi lebih bebas jika dibandingkan dengan sistem regulasi tradisional dan bertentangan dengan sistem norma yang berlaku dalam masyarakat (Kartono 1992). Banyaknya remaja yang melakukan seks bebas terlihat dengan jelas dalam kehidupan sehari-hari khususnya di kota-kota besar. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarwono bersama GRK dan Radio Prambors pada tahun 1981, bahwa 7.1% pelajar SMP, 11.3% pelajar SMA dan 23.6% mahasiswa di Jakarta pernah melakukan intercourse dengan pacarnya. Sarwono (1997) mengatakan, beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku remaja terhadap seks bebas dapat dilihat dari dalam dan luar individu tersebut. Dari dalam individu yaitu dengan adanya perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja.
 Peningkatan hasrat seksual ini sangat membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. Adapun, faktor-faktor yang berasal dari luar individu tersebut yaitu, dengan adanya perubahan urbanisasi, berupa perpindahan penduduk dari desa ke kota, dimana penduduk desa yang tinggal di perkotaan tersebut, melihat bahwa pergaulan remaja di perkotaan berbeda dengan pergaulan yang pernah mereka jalani di desanya, sehingga penduduk tersebut beradaptasi dengan pergaulan tersebut agar bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat kota, pengaruh dari suatu budaya yang cenderung ke arah budaya luar (asing) yang masuk ke Indonesia, tanpa menyaring terlebih dahulu kebudayaan tersebut.
Faktor yang juga diasumsikan sangat mendukung remaja untuk melakukan hubungan seks bebas (free sex) adalah konformitas remaja pada kelompoknya di mana konformitas tersebut memaksa seorang remaja harus melakukan hubungan seks. Santrock (1998) mengatakan, bahwa konformitas kelompok bisa berarti kondisi di mana seseorang mengadopsi sikap atau perilaku dari oranglain dalam kelompoknya karena tekanan dari kenyataan atau kesan yang diberikan oleh kelompoknya tersebut. Sarwono (2002) menjelaskan karena kuatnya ikatan emosi dan konformitas kelompok pada remaja, maka biasanya hal ini sering dianggap juga sebagai faktor yang menyebabkan munculnya tingkah laku remaja yang buruk. Apabila 76 Jurnal Psikologi Volume 1, No. 1, Desember 2007 lingkungan peer remaja tersebut mendukung untuk dilakukan seks bebas, serta konformitas remaja yang juga tinggi pada peer-nya, maka remaja tersebut sangat berpeluang untuk melakukan seks bebas. Hal ini bukan saja mempengaruhi remaja tersebut dalam berhubungan dengan keluarganya, tetapi juga mempengaruhi kehidupan sosial, sekolah dan harapannya.
 Keadaan-keadaan yang tersebut di ataslah yang menyebabkan mengapa konformitas kelompok sangat menarik untuk diteliti dalam hubungan munculnya perilaku seks bebas (free sex) pada remaja.
 Namun demikian, sampai saat ini belum ada penelitian yang cukup luas dan akurat mengenai perilaku seks bebas di kalangan remaja di Indonesia, namun dari berbagai penelitian skala kecil didapatkan penilaian secara kasar bahwa di Indonesia masalah ini telah cukup mengkhawatirkan. Penelitian yang dilakukan LSM pada SMU Swasta terkenal di Surabaya, memberikan hasil yang cukup mengejutkan, 50% dari para siswa pernah melakukan hubungan seksual, sedangkan penelitian yang dilakukan hanya pada remaja putri, ternyata 70% dari remaja tersebut setuju untuk melakukan hubungan seksual pranikah. Selain itu 30% ABG yang berada di kota Bandung sudah terbiasa untuk melakukan hubungan seksual. Ide tentang kebebasan seks dicetuskan, karena banyak orang beranggapan, bahwa masalah seks merupakan sepenuhnya masalah pribadi, sehingga masyarakat sama sekali tidak berhak mencampuri urusan tersebut. Perilaku seks bebas (free sex) dalam penelitian ini adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, terhadap lawan jenis, mulai dari tingkah laku kissing, necking, petting, dan intercourse yang dilakukan diluar hubungan pernikahan.
 METODE PENELITIAN Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas II dan III SMUN 99 Cibubur, Jakarta Timur berusia antara 17- 19 tahun. Alat pengumpul data yang digunakan adalah skala konformitas kelompok dan skala perilaku seks bebas (freesex). Teknik analisis data menggunakan tekhnik korelasi Product Moment Pearson dan uji reliabilitas menggunakan teknik Alpha Cronbach. Penghitungan validitas dan reliabilitas dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 10.0. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis item skala konformitas kelompok sebanyak 59 item, terdapat 31 item yang valid dan 28 item yang gugur dengan koefisien validitas yang bergerak dari 0.2551-0.6274. Sedangkan hasil uji reliabilitas menghasilkan koefisien reliabilitas sebesar 0.8038. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, terbukti bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara konformitas kelompok dengan perilaku seks bebas (free sex), dimana subjek yang mempunyai konformitas kelompok tinggi cenderung sering dalam melakukan perilaku seks bebas (free sex), sebaliknya subjek yang mempunyai konformitas kelompok yang rendah cenderung jarang dalam melakukan perilaku seks bebas (free sex).
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sarwono (2002) berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat bukti bahwa kuatnya pengaruh konformitas kelompok dapat menjadi dasar dari perilaku seks bebas pada remaja. Hal ini didukung juga oleh penyataan Connoly (dalam Dusek 1996) yang menyatakan bahwa konformitas kelompok menyebabkan remaja belajar bagaimana berinteraksi dengan teman sebaya berjenis kelamin berbeda. Hal tersebut biasanya menjurus Chynthia, Konformitas Kelompok … 77 kepada melakukan seks atau tidak, melakukan pernikahan atau tidak, sampai kepada ingin mempunyai anak atau tidak.
Harvey dan Spigner (1995) juga menyatakan bahwa walaupun orang tua memegang peranan yang penting dalam mengajarkan remaja untuk berinteraksi sosial, dengan baik pada lingkungannya, namun kelompok teman sebaya juga sangat mendukung untuk dilakukannya atau tidak dilakukannya perilaku seks bebas, Menurut Browning, Brooks-Gunn, dan Leventhal (2005), remaja mempunyai “pandangan yang lebih baik terhadap sikap dan perilaku peer-nya”, daripada perilaku sebenarnya yang ditampakkan oleh peer-nya, sehingga apabila remaja percaya bahwa peer-nya baik laki-laki ataupun perempuan aktif dalam melakukan aktivitas seksual padahal kenyataannya tidak, maka “kepercayaan” itulah yang akan menyebabkan seorang remaja melakukan perilaku seks bebas. Untuk hasil analisis data skala konformitas kelompok yang telah dilakukan, diperoleh rerata skor teoritik yang lebih tinggi daripada rerata skor empirik. Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa-siswi SMUN 99 mempunyai konformitas kelompok yang rendah.
Hasil pada Tabel 1 dapat terjadi karena beberapa faktor. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya konformitas kelompok tersebut dimungkinkan karena padatnya kurikulum sekolah yang mengharuskan para siswa untuk mengikutinya dari pagi hingga sore hari, sehingga waktu siang sampai sore dipenuhi oleh jadwal kegiatan ekstrakurikuler atau pelajaran tambahan yang harus diikuti untuk menambah nilai. Dengan demikian, siswa cenderung tidak mempunyai waktu yang banyak untuk berkumpul dengan temantemannya atau peer-nya.
Faktor lainnya adalah, tidak adanya role model atau seseorang yang layak untuk dijadikan pemimpin bagi satu orang atau orang lain. Hal ini menyebabkan, para siswa cenderung berusaha untuk mengembangkan sendiri ciri khas dirinya dan mencoba membentuk sendiri harga dirinya, yang menurut Rakhmat (2000), hal tersebut mempengaruhi individu untuk lebih berprestasi sehingga menyebabkan semakin sulitnya individu untuk melakukan konformitas kelompok.
           Faktor jarak rumah yang berjauhan juga mempunyai andil besar pada rendahnya konformitas kelompok, karena kebanyakan waktu para siswa tersita di sekolah untuk mengerjakan tugas bersama, sehingga tidak ada waktu untuk ‘ngobrol’ tentang banyak hal dan untuk mengenal masingmasing pribadi pun sedikit sekali. Ditambahkan juga dengan faktor jenis kelamin, karena subjek yang diambil pada penelitian ini lebih banyak siswa perempuan daripada siswa pria. Hasil penelitian yang diperlihatkan Tabel 2 cukup menarik.
Seperti yang dikatakan oleh Rakhmat (2000) bahwa siswa perempuan lebih banyak mempunyai peluang untuk melakukan konformitas daripada siswa pria. Menurut Doherty (1998), hal ini biasanya disebabkan oleh siswa pria dalam kebanyakan hal lebih banyak diberikan kesempatan untuk berbeda, berpikir dengan caranya sendiri dan mempunyai cara-cara yang lebih mandiri untuk mengeluarkan ideidenya, sedangkan siswa perempuan tidak banyak diberikan kesempatan tersebut.










HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN SEKS PRANIKAH DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS

Pacaran bagi remaja sudah bukan merupakan suatu hal yang tabu dan dilarang, mereka mendefinisikan pacaran sebagai hubungan romantik antara JURNAL KEBIDANAN Vol. 3 No. 7 Oktober 2014 ISSN.2089-7669 32 dua orang yang memiliki perasaan yang sama untuk berbagi kisah suka dan duka. Remaja mengartikan bahwa pacaran yang mereka jalani berdasarkan dengan cinta, sesuai yang dikatakan Michail Reiss dan J. Mark Halstead (2006) bahwa cinta adalah nilai terpenting dalam hubungan kedekatan, dan cinta itu sendiri seperti kekuatan motivasi yang dapat membuat hidup berubah.
 Survei Kesehatan Reproduksi Republik Indonesia (SKRRI) 2007 menyebutkan responden dinyatakan apakah mereka sudah pernah mempunyai pacar, yang telah didefinisikan dalam daftar pertanyaan sebagai seorang lawan jenis dengan siapa responden mempunyai hubungan, menunjukkan 28% pria bahwa mereka belum pernah mempunyai pacar dibandingkan dengan 23% pada wanita.
 Menurut SKRRI (2007), kepada responden ditanyakan berbagai kegiatan yang dilakukan bila sedang berpacaran, termasuk berpegangan tangan, berciuman dan petting (meraba atau merangsang bagian tubuh yang sensitif), menunjukkan bahwa perilaku yang lebih sering dilakukan remaja dalam berpacaran adalah berpegangan tangan (68% pada wanita dan 69% pada pria). Secara umum, remaja pria cenderung lebih banyak melaporkan perilaku berciuman bibir (41% dibanding 27% wanita), demikian juga dengan perilaku meraba atau merangsang bagian tubuh sensitif (27% pria dibanding 9% pada wanita) Survei SDKI (2010) menyatakan gejala perilaku seksual pra-nikah pada remaja laki-laki dan perempuan usia 10-24 tahun sudah terjadi, walaupun angkanya masih di bawah 5 persen. Terdapat 0,5 persen perempuan telah melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 8 tahun, dan 0,1 persen pada laki-laki, dikaji bahwa penggunaan kontrasepsi sangat terbatas pada saat berhubungan seksual, 23,4 persen pada laki-laki dan hanya 5,3 persen pada perempuan.
 Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang menunjukkan bahwa selama tahun 2013 dari januari sampai desember tercatat kasus seks pranikah mengalami peningkatan yang signifikan, yakni selama tahun 2013 tercatat laki-laki berumur 10-14 tahun ada 10 orang, laki-laki berumur 14-19 tahun ada 36 orang, perempuan berumur 10-14 tahun ada 16 orang, dan perempuan berumur 14-19 tahun ada 104 orang. Studi pendahuluan yang dilakukan kepada 10 siswa-siswi yang diambil secara acak di SMK Abdi Negara, Muntilan pada pertanyaan kegiatan apa sajakah yang sering dilakukan jika sedang pacaran, menunjukkan bahwa berpegangan tangan (55%), berciuman (32%), petting (meraba atau merangsang bagian tubuh yang sensitif) (13%).
Alasan remaja melakukan hubungan seksual pranikah, setelah dilakukan studi pendahuluan kepada 10 siswa-siswi dari 90 siswi yang diambil secara acak di SMK Abdi Negara Muntilan menunjukkan bahwa karena pasangan saling mencintai (58%), alasan lain karena pasangan merencanakan untuk menikah (22%), dan karena pasangan senang melakukan hubungan seksual (20%). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pengeta huan dengan sikap remaja tentang perilaku seks pranikah pada siswi kelas X SMK Abdi Negara Muntilan 2014. JURNAL KEBIDANAN Vol. 3 No. 7 Oktober 2014 ISSN.2089-7669.




DAFTAR PUSTAKA


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TELENURSING

MITOS TEPUNG KUNYIT MAMPU MENURUNKAN KADAR KOLESTEROL PADA TELUR PUYUH